DIY POMPA DORONG BOOSTER & BATAL MEMBELI POMPA DORONG / BOOSTER KARENA
Ini informasi penting !!! bila Anda ingin membeli pompa dorong booster, silahkan baca sampai habis.
Membeli sebuah pompa dorong atau booster ternyata tidak segampang membeli pompa sedot yan yang cukup mempertimbangkan kedalaman dan ketinggian torrent.
Membeli sebuah pompa dorong atau booster ternyata tidak segampang membeli pompa sedot yan yang cukup mempertimbangkan kedalaman dan ketinggian torrent.
Ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan jika letak toren penampungan air tidak terlalu tinggi dan harus memberikan tekanan yang cukup ke beberapa keran atau shower mandi.
Berikut sedikit pengalaman kenapa batal membeli pompa dorong atau booster untuk 2 buah kamar mandi yang menggunakan shower.
Karena posisi tangki yang rendah, maka memutuskan untuk menggunakan pompa booster atau pompa pendorong, dan akhirnya tanya - tanya dengan staff penjualnya setelah melihat harga pompa booster beberapa ratus ribu rupiah dan masih masuk dengan anggaran yang ada.
Pompa booster keluaran wasser ini cukup kecil, tetapi ternyata harus dipasang dekat keran atau shower dan hanya bisa digunakan untuk satu keran atau shower saja. Aduh, batal memilih yang pompa dorong yang paling murah di rak tersebut.
Beralih ke kakaknya yang lebih besar dan tentunya lebih mahal sedikit sekitar 700 - san ribu rupiah, dan tanya - tanya lagi. Bisa digunakan untuk 2 keran air atau shower ( dalam satu kamar mandi ) dan ada pengaturan tenaga semburnya. Tetapi tetap harus dipasang dekat keran. Aduh. Mengerikan juga pasang kabel dekat kamar mandi, dan tidak bisa untuk semua kamar mandi yang ada. Cuma menang sedikit soal semburan dari adiknya yang disebelah.
Masih di rak pompa yang sama, tapi geser lagi ke pompa yang lebih besar lagi dan punya 3 mode kekuatan semburan. Tapi syarat instalasi ternyata sama saja dengan pompa - pompa yang telah ditanya sebelumnya.
(Pompa besar namun harus dipasang sejajar dengan ketinggian toren air )
Geser lagi ke pompa selanjutnya yang jauh lebih besar dan sama dengan ukuran pompa hisap pada umumnya, dan tentunya harganya sudah hampir satu setengah juta rupiah, harga yang lumayan untuk sebuah pompa booster. Namun ternyata pemasangannya harus sejajar dengan posisi tinggi tangki toren air, artinya pipa keluar dari tangki akan langsung masuk ke pompa dorong. Hal ini tentu menjadi masalah bagi saya, karena posisi pompa outdoor rawan maling, dan belum lagi saya harus menarik kabel lumayan panjang. Oh iya, ada cover keren dari plastik untuk menutup pompanya, walau spesifikasi pompa dorongnya sendiri sudah waterproof alias anti hujan. Jangan dicoba - coba untuk dijadikan pompa celup ya. Bakal konsleting.
Pemasangan pompa dorong booster ternyata tidak segampang pompa air biasa, posisi pompa dan arah pompa harus sesuai dengan petunjuk pemasangan yang agak membingunkan jika tidak dijelaskan oleh penjualnya.
Selain itu, konsumsi daya listrik juga menjadi pertimbangan saya dalam membeli sebuah pompa dorong booster. Untuk tipe pompa dorong besar sudah memakan daya 1.7A aliast 1.7 amper klo dihitung daya wattnya, makan 1.7 dikalikan 220v maka dayanya sudah mencapai 374watt. Daya yang cukup besar buat saya yang suka ngirit dalam pemakaian listrik perabotan rumah. Mulai dari lampu penerangan, kulkas, dan ac diatur seirit mungkin. Dan juga masih daya yang cukup besar untuk sebuah pompa dorong booster dibandingkan dengan pompa hisap biasa yang cuma memakan daya sebesar 100 watt.
Akhirnya saya memutuskan untuk pulang, dan tidak jadi membeli pompa booster dorong yang baru setelah mendapatkan beberapa informasi diatas dari penjualnya. Dan akhirnya saya memberdayakan kembali pompa hisap yang rusak, dan diperbaiki dengan modal sepuluh ribu rupiah saja untuk mengganti karet sealnya.
Pompa ini saya beli sudah lumayan lama, seharga 200san ribu rupiah. Dan saya juga punya stock flow switch dan pressure switch pompa. Kenapa tidak saya rakit saja menjadi pompa dorong, dan bisa saya letak dalam rumah agar awet dan aman.
Pada pompa dorong booster flow switchnya terpasang setelah jalur out pompa, sehingga lida pada switch akan terdorong begitu ada arus air yang mengalir, dan menghidupkan pompa. Tetapi padah flow switch yang ada dipasaran dengan harga murah, bentuk switchnya tidaklah berbentuk lidah. Tapi berbentuk valve dengan per yang menekan valvenya. Tentu ini tidak menguntunkan karena akan menyebabkan pompa tidak akan mati walau keran air telah ditutup, karena valve tidak menutup karena masi tertekan tekanan air dipipa. Berbeda denngan sistem lidah yang akan kembali ke posisi semulah ( off ) ketika tidak ada arus yang mengalir.
Hal ini bisa diakali dengan memasang pressure switch sebagai gantinya. Tentu akan terdengar bunyi cetekan khas pompa air nantinya. Jika suara cetek cetek tidak mengganggu tentu tidak masalah bukan.
Satu lagi hal yang harus diperhatikan adalah, jika menggunakan pressure switch dan flow switch biasa, maka bilah air pada tangki toren habis, maka pompa akan terus hidup dan itu tentu akan merusak pompa. Jadi sebisah mungkin menggunakan flow switch model lidah. Atau pastikan otomatis pompa pada toren air tetap bekerja dan air pada tangki toren akan terus otomatis terisi.
Bisa diambil kesimpulan bahwa yang membuat mahal sebuah pompa booster dibandingkan dengan pompa dorong adalah dibagian switchnya. Menggunakan pompa yang memang dikhususkan untuk mendorong air, tentu lebih tenang dalam hal suara dan juga hati. Tapi jika mau mengirit tagihan listrik dan uang keluar untuk membuat pompa dorong booster, maka mengubah pompa sedot biasa menjadi pompa dorong booster tidak ada salahnya.

Comments
Post a Comment